Analisis Pengendalian Kualitas dengan Diagram Sebab-Akibat (Fishbone Diagram) dan Failure Mode and Effect (FMEA) untuk Meminimalisir Kecacatan Kain Romario 58 B pada PT. ABC

Authors

  • Syarifah Nahrisa Abbiya Hasna Program Studi Sarjana Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Jl. Almamater Kampus USU, Medan 20155
  • Sarah A. L. Sirait Program Studi Sarjana Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Jl. Almamater Kampus USU, Medan 20155
  • Nelson Wynn Program Studi Sarjana Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Jl. Almamater Kampus USU, Medan 20155
  • Marthin Siahaan Program Studi Sarjana Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Jl. Almamater Kampus USU, Medan 20155
  • Eger Bangun Program Studi Sarjana Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Jl. Almamater Kampus USU, Medan 20155

DOI:

https://doi.org/10.32734/ee.v9i2.2824

Keywords:

Pengendalian Kualitas, Fishbone Diagram, FMEA, Kain Romario 58 B, Water Jet Loom, Quality Control, Romario 58 B Fabric

Abstract

Kajian ini diarahkan untuk menginvestigasi faktor-faktor pemicu kerusakan pada produk kain Romario 58 B di PT. ABC, sekaligus merumuskan urutan prioritas penanganannya melalui pendekatan diagram tulang ikan (fishbone) serta Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Fokus observasi dikerucutkan pada tahapan weaving yang memanfaatkan unit Water Jet Loom (WJL), mengingat fase ini teridentifikasi sebagai penyumbang cacat terbesar. Informasi dikumpulkan melalui tinjauan lapangan, pencatatan dokumen inspeksi, serta perekaman data kegagalan kain sepanjang rentang waktu 8 Juli 2025 sampai dengan 3 Agustus 2025. Berdasarkan kalkulasi Pareto, ditemukan bahwa porsi terbesar dari total kerusakan bersumber pada empat kategori cacat mayor, yakni kerapatan pakan tidak rata II, lusi putus, kerapatan pakan tidak rata I, beserta salur putih. Penelusuran menggunakan diagram fishbone mengonfirmasi bahwa akar kendala tersebut dipicu oleh elemen manusia, permesinan, prosedur kerja, bahan baku, serta situasi lingkungan. Lebih lanjut, peninjauan FMEA membuktikan bahwa pemicu dengan skor Risk Priority Number (RPN) tertinggi bervariasi untuk setiap jenis kerusakan, di mana aspek mesin dan manusia menempati urutan paling krusial pada sejumlah kasus. Rekomendasi perbaikan dititikberatkan pada penjadwalan pelumasan mesin secara kontinu, eskalasi kapasitas pelatihan operator, perancangan SOP yang lebih terperinci, disusul dengan pengetatan kontrol terhadap material maupun kondisi area kerja. Pengaplikasian langkah-langkah usulan tersebut diproyeksikan sanggup menekan rasio kerusakan kain dan mendongkrak mutu produksi secara berkesinambungan.

This study aims to analyze the causes of defects in Romario 58 B fabric at PT. ABC and determine improvement priorities using This research is conducted to investigate the root causes of flaws in the Romario 58 B fabric produced by PT. ABC and to establish the hierarchy of corrective actions applying the fishbone diagram and Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) methods. The investigation specifically targets the weaving stage operating the Water Jet Loom (WJL) machinery, considering this phase is recognized as the primary contributor to product defects. Data acquisition was executed via direct field observations, inspection records documentation, and the compilation of fabric defect statistics from July 8, 2025, to August 3, 2025. Pareto analysis outcomes revealed that a vast majority of the total defects were attributed to four dominant flaw categories: uneven weft density II, broken warp, uneven weft density I, and white streaks. Furthermore, the fishbone analysis pinpointed the origins of these issues to human factors, machinery, operational methods, materials, and environmental conditions. Subsequent FMEA evaluations demonstrated that the highest Risk Priority Number (RPN) varied across different defect types, with machine and human elements emerging as the utmost priorities in several instances. Proposed corrective measures are heavily centered on consistent machine lubrication, enhanced operator training programs, the formulation of clearer Standard Operating Procedures (SOPs), alongside rigorous oversight of materials and workplace conditions. Executing these recommendations is anticipated to significantly diminish fabric defect rates and sustainably elevate overall production quality.

Downloads

Published

2026-06-30