Skip to main content Skip to main navigation menu Skip to site footer

BONEK sebagai Kearifan Lokal Menuju Tata Ruang yang Inklusif

BONEK as Local Wisdom Towards Inclusive Spatial Planning

Authors
  • Rohadatul Aisyi Universitas Diponegoro, Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus
  • Alwiyah Maulidiyah Universitas Diponegoro, Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus
  • Sawitri Retno Haudiati Universitas Diponegoro, Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus
  • Fadhilah Ramadhani Universitas Diponegoro, Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus
  • Nadiah Irbah Rosyadah Universitas Diponegoro, Yayasan Peduli Kasih Anak Berkebutuhan Khusus
Issue       Vol 3 No 1 (2020): Talenta Conference Series: Energy and Engineering (EE)
Section       Articles
Galley      
DOI: https://doi.org/10.32734/ee.v3i1.867
Keywords: Local Wisdom Urban Design Social Change Inclusion
Published 2020-09-30

Abstract

Makalah ini mencoba menerapkan kearifan lokal sebagai yang tidak selalu terkait masa lalu maupun tatanan masyarakat adat. Kearifan lokal seharusnya bisa terdapat pada masa kini dan menjadi identitas suatu komunitas modern (perkotaan). Kearifan lokal diperlukan bukan hanya agar masyarakat tersebut bertahan terhadap gempuran budaya luar, namun juga diharapkan dapat menyelesaikan berbagai permasalahan, termasuk masalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Bonek - singkatan dari kata bondho nekat, arti sebenarnya : hanya berbekal kenekatan (berani). Namun nekat yang diartikan positif, yaitu sebagai suatu keyakinan dalam melakukan tindakan, sepanjang memperjuangkan kebenaran, pasti mewujud. Oleh karena itu bonek perlu diasosiasikan dengan karakter pantang menyerah dan terlebih bila dikaitkan dengan sejarah kepahlawanan Surabaya, bonek adalah nilai egaliter, solider, pekerja keras, namun jenaka. Sehingga bonek diharapkan dapat berkontribusi terhadap pembangunan karakter ABK beserta orang tuanya maupun berbagai pihak yang terkait. Karena - walaupun, sudah banyak upaya pemerintah terhadap ABK, namun mengingat permasalahan yang begitu kompleks, sehingga perlu partisipasi aktif warga, termasuk juga kolaborasi antara warga dengan berbagai pihak terkait. Dinamika mengangkat karakter bonek dalam solusi ABK guna kontribusinya terhadap pembangunan tata kota yang inklusif - dibahas dan termasuk juga saran-saran aksesibilitasnya. 

This paper tries to apply local wisdom as not always related to the past or the order of indigenous peoples. Local wisdom should be able to exist today and become the identity of a modern (urban) community. Local wisdom is needed not only so that the community can survive the onslaught of foreign cultures, but also is expected to be able to solve various problems, including the problem of Children with Special Needs (ABK). Bonek - abbreviation of the word bondho reckless, the real meaning: only armed with determination (brave). But reckless is interpreted positively, namely as a belief in taking action, as long as fighting for the truth, must come into being. Therefore, bonek needs to be associated with unyielding character and especially when it is related to the history of the heroism of Surabaya, bonek is an egalitarian, solider, hardworking, but witty value. So bonek is expected to be able to contribute to the development of the ABK's character and its parents and various related parties. Because - although there has been a lot of government effort towards ABK, but given the problems that are so complex, it requires the active participation of citizens, including collaboration between citizens and various related parties. The dynamics of raising the bonek character of the ABK solution for its contribution to inclusive urban planning development - are discussed and include suggestions for accessibility.