Skip to main content Skip to main navigation menu Skip to site footer

Pelestarian Kearifan Lokal Tempat Suci Tajur di Panguruan

Authors
  • Rolando Meixon Siahaan Universitas Sumatera Utara
  • Dwira Nirfalini Aulia Universitas Sumatera Utara
Issue       Vol 2 No 1 (2019): Talenta Conference Series: Energy and Engineering (EE)
Section       Articles
Galley      
DOI: https://doi.org/10.32734/ee.v2i1.417
Keywords: Pelestarian Kearifan local Tempat Suci
Published 2019-05-31

Abstract

Pangururan merupakan sebuah kecamatan dan sekaligus ibukota Kabupaten Samosir yang termasuk destinasi wisata lokal maupun internasional karena terletak dalam Geopark Kaldera Toba. Masyarakat Batak Toba menganut kepercayaan animisme dan dinamisme yang mempercayai adanya kekuatan di luar kekuatan yang ada di dalam tubuh manusia yang dapat mempengaruhi kehidupan orang yang masih hidup. Keyakinan akan hal ini dibuktikan dengan pemikiran yang masih mengenal tempat suci atau sakral selain tempat ibadah. Salah satu kearifan lokal tempat suci yang masih bertahan adalah tempat suci Tajur yang berada di Pangururan. Tempat ini sangat terbuka untuk umum sehingga kondisinya kurang terpelihara dengan baik. Sirkulasi pengunjung yang masuk ke areal tempat suci tidak teratur dan tertata dengan baik. Setiap orang dapat bebas masuk untuk melakukan aktivitas ritual maupun berwisata sehingga terjadi kegiatan yang bercampur. Penelitian yang dilakukan ini bertujuan untuk menata tempat suci pemujaan sebagai bagian dari pelestarian kearifan lokal warisan budaya di Pangururan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pendekatan teori-teori yang digunakan akan dipakai di lapangan dan diteliti lebih mendalam menurut fenomena yang terdapat di lokasi penelitian. Penelitian ini menghasilkan penataan ruang tempat suci Tajur adalah dengan membedakan ruang private dan ruang lainnya akan memberikan suasana yang lebih sakral dalam melakukan aktivitas ritual. Melengkapi fasilitas pendukung lainnya akan memberikan rasa kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung yang datang. Pengunjung yang datang diharapkan bukan saja masyarakat yang akan melakukan aktivitas ritual, namun pengunjung lainnya seperti wisatawan lokal maupun asing.

 

Pangururan is a sub-district and the capital of Samosir Regency which is a local and international tourist destination because it is located in the Toba Caldera Geopark. The Toba Batak community adheres to animist beliefs and dynamism which belief in the existence of forces outside the forces that are in the human body that can affect the lives of people who are still alive. Belief in this is evidenced by the thought of still knowing a sacred or sacred place other than a place of worship. One of the local wisdom of the holy place that still survives is the holy place of Tajur in Pangururan. This place is very open to the public so that the condition is not well maintained. Circulation of visitors entering the holy area is irregular and well organized. Everyone can be free to enter to perform ritual activities or travel so that mixed activities occur. The research conducted aims to organize a shrine of worship as part of the preservation of the local wisdom of cultural heritage in Pangururan. This study uses a qualitative method. The approach of the theories used will be used in the field and examined more deeply according to the phenomena found in the research location. This research resulted in the arrangement of the Tajur sanctuary space by distinguishing private space and other spaces to provide a more sacred atmosphere in performing ritual activities. Completing other supporting facilities will provide a sense of comfort and security for visitors who come. Visitors who come are expected not only to those who will carry out ritual activities but other visitors such as local and foreign tourists.