Skip to main content Skip to main navigation menu Skip to site footer

Pendekatan Lintasan Produksi Pada Produk Lampu Dengan Menggunakan Metode Helgeson Birnie

Authors
  • Andri Nst Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
  • Alfri Lumongga Nst Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
Issue       Vol 3 No 2 (2020): Talenta Conference Series: Energy and Engineering (EE)
Section       Articles
Galley      
DOI: https://doi.org/10.32734/ee.v3i2.1034
Keywords: Lintasan Produksi Metode Helgeson Birnie
Published 2020-11-30

Abstract

PT. X merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak dalam memproduksi lampu. Aktivitas produksi ini berdasarkan pemesanan.Masalah penyeimbangan lintasan produksi di lantai pabrik terkait dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh order yang datang sesuai dengan batas waktu penyerahan (due date) yang telah ditentukan sering terjadinya keterlambatan. Produk lampu merupakan produk unggulan perusahaan karena selalu dipesan pelanggan dalam jumlah yang besar. Produk-produk ini hanya dijual diseluruh wilayah di Indonesia, baik itu dari pulau Sumatera Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Papua. Dalam penelitian ini, disajikan data peramalan penjualan lampu pada tahun 2020 serta waktu proses setiap elemen kerja untuk menyelesaikan 1 unit lampu berdasarkan stasiun kerja yang diukur dengan menggunakan metode stopwatch time study. Perhitungan waktu siklus aktual didasarkan atas precedence constraint.Setiap operator akan dihitung allowance dan rating factornya. Kemudian, akan dibangun sebuah matriks precedence yang setiap workcenter yang dilalui akan bernilai 1 dan apabila elemen kerja yang tidak dilaui oleh elemen kerja sebelumnya bernilai 0. Matriks ini digunakan untuk menentukan bobot setiap elemen kerjanya.Setelah pembobotan setiap elemen kerja dilakukan perankingan sesuai bobot yang terbesar. Solusi pemecahan masalah diperoleh berdasarkan waktu elemen kerja yang memiliki efisiensi yang tinggi serta balance delay yang rendah. Dalam pendekatan untuk memperbaiki lintasan produksi pada pembuatan unit lampu metode helgeson birnie telh digunakan untuk menentukan work center secara manual dengan membentuk 6 work center. Dengan balance delay sebesar 12,97% serta efisiensi dalam merakit 1 unit lampu sebesar 86,28%. Dan dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa lintasan yang sudah dirancang lebih baik daripada lintasan actual pada perusahaan dikarenakan tingkat efisiensi yang rendah.

 

PT. X is a manufacturing company engaged in producing lamps. This production activity is based on ordering. The problem of balancing the production line on the factory floor is related to the company's ability to fulfill all incoming orders according to a predetermined due date. Lighting products are the company's flagship product because customers are always ordered in large quantities. These products are only sold in all regions in Indonesia, be it from the islands of Sumatra, Java, Sulawesi, Kalimantan and Papua. In this study, data for forecasting lamp sales in 2020 are presented as well as the processing time for each work element to complete 1 unit of light based on the work station as measured using the stopwatch time study method. The actual cycle time calculation is based on the precedence constraint. Each operator will calculate the allowance and rating factor. Then, a precedence matrix will be built where each work center that is passed will be worth 1 and if the work element that was not passed by the previous work element is 0. This matrix is ​​used to determine the weight of each work element. After weighting each work element is ranked according to the largest weight . The problem solving solution is obtained based on the time of the work element which has high efficiency and low balance delay. In the approach to improving the production line in the manufacture of light units, the helgeson birnie method has been used to determine the work center manually by forming 6 work centers. With a balance delay of 12.97% and efficiency in assembling 1 lamp unit of 86.28%. And from the results of this study it is concluded that the path that has been designed is better than the actual path in the company due to the low level of efficiency.